Minggu, 17 Agustus 2014

Ancaman Bahaya Karena Panas Global

03.09 Posted by Admin , No comments
Ancaman Bahaya Karena Panas Global

Peningkatan panas yang dirasakan seluruh dunia semakin serius. Bumi tempat tinggal bagi manusia dari hari ke hari terbukti semakin panas dan tidak mendukung keberlangsungan hidup manusia.

Berdasarkan data dari lembaga meteorologi Amerika Serikat, bukan saja suhu Bumi yang semakin meningkat, konsentrasi gas rumah kaca, ketinggian air laut serta indikator-indikator lain yang berhubungan dengan perubahan iklim dunia.

Hal yang mengerikan adalah tingginya kadar karbondioksida di udara. Dari data Pusat observasi Mauna Loa di Hawaii mencatat kadar karbondioksida telah mencapai 400 ppm pada tahun 2013 lalu. Peningkatan gas karbondioksida menjadi hal yang dikhawatirkan di tahun 2014 (Jika hal tersebut tidak diatasi kemungkinan besar umat manusia akan berakhir), demikian dikutip dari Astrosiana.

Ilmuwan cuaca menyalahkan peningkatan gas karbondioksida, metan, hingga nitro dioksida sebagai masalah pemanasan global. Gas-gas yang masih tergolong dalam gas rumah kaca yang terus diproduksi oleh pembakaran bahan bakar fosil mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Kabar buruk ini berasal dari data yang dikumpulkan oleh 425 ilmuwan dari 57 negara di dunia. Data perubahan lingkungan dan gas rumah kaca sendiri diambil dari berbagai macam tempat, baik daratan, udara, lautan, air, dan lapisan es di kutub sekalipun.

Sabtu, 16 Agustus 2014

Ternyata Nuklir Menjadi Obat Terbaik Bagi Penyakit Kanker Ganas

22.29 Posted by Admin No comments
Ternyata Nuklir Menjadi Obat Terbaik Bagi Penyakit Kanker Ganas

Aplikasi teknologi nuklir ternyata bukan hanya mampu memberikan energi seperti pembangkit listrik untuk proses industri saja. Nukilir ternyata mampu juga dikembangkan secara khusus di bidang kesehatan salah satunya therapy penyakit kanker.

Dalam perjanjian kerjasama yang dilakukan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) bersama dengan Universitas Tanjungpura (Untan), Pontianak, hari ini, Kamis (14/8/2014), dapat menjadi landasan bahwa Indonesia mampu mengembangkan alat dan pengobatan kanker terbaru yakni, Boron Neutron Capture Cancer Therapy (BNCT).

Peneliti utama Batan, Prof. Yohanes Sardjono mengatakan, metode BNCT ini telah mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dan bila proyek ini terlaksana, Indonesia adalah negara keempat di Asia, setelah Jepang, Taiwan dan Korsel yang mengembangkan metode ini, di dunia Indonesia ke-14.

Dilansir Okezone. Dengan demikian BNCT ini diharapkan akan menjadi terapi yang sangat efektif untuk mengobati beberapa jenis kanker seperti kanker otak ganas, yang sejauh ini belum ada keberhasilan pada pengobatan yang telah dikembangkan.

"Kedepan, ini metode ini (BNCT) bisa berfungsi efektif untuk mengobati kanker payudara yang jumlahnya relatif banyak, selain juga mampu berfungsi efektif menurunkan morbiditas maupun mortalitas kanker payudara di Indonesia," jelas Yohanes.

Adapun konsep dari metode BNCT ini, kata Prof Yohanes, didasarkan pada reaksi nuklir yang terjadi ketika inti boron dengan neutron termal dan menghasilkan dua partikel yang memiliki Linear Tansfer (LET) tinggi yakni, partikel alfa dan partikel ion Litium.

Dimana reaksi ini menghasilkan dosis radiasi primer. Sehingga tidak perlu khawatir, partikel ini tidak akan merusak sel-sel yang sehat lainnya ketika disuntikan ke dalam tubuh, tetapi hanya akan merusak sel kanker saja.

Berbeda dengan pengobatan pada umumunya, seperti pembedahan (operasi), radioterapi dan terapi sistemik (kemoterapi). "Tetapi itu hanya bisa efektif untuk sejumlah kecil kanker yang ganas," jelasnya.

Dalam metode ini, pertama-tama Boron disuntikkan ke dalam aliran darah dan akan terkumpul dalam sel kanker. Tahap selanjutnya dari pengobatan adalah iradiasi pada sel kanker dengan neutron energi rendah, yang dapat meningkatkan dosis radiasi sekitar 2 hingga 3 kali, sehingga dosis rendah radioterapi neutron dapat diberikan.

"Sehingga memperkecil kemungkinan bahwa neutron akan menyebabkan kerusakan pada bagian tubuh lainnya," tuturnya.

Biaya dan Proses

Yohanes menjelaskan, biaya yang dibutuhkan sekira  Rp33 miliar untuk  4 tahun ke depan. Itupun hanya untuk proses riset saja, alatnya beda lagi.

Sementara tahap pertama untuk pengembangan BNCT ini adalah melakukan pengujian senyawa Boron dari Neopanora Hong Kong Research and Development Center (NHK) di reaktor Kertini Batan, dan secara parallel mengembangkan analog kurkumin yang tersubstitusi karboranil sebagai senyawa koron BNCT melalui kondensasi karbonil aldol, dilanjutkan pengujian Vitro dan In vitro tanpa sistem BNCT dan tahap berikutnya adalah sistem BNCT.

"Kalo dirunut keseluruhan ada tiga tahap yang harus dilalui untuk bisa menghasilkan metode yang dinamakan BNCT itu, dan waktu yang dibutuhkan juga tidak sedikit, target 2017 bisa terealisasi," pungkasnya.